Nyala api yang menghilang belum selalu menandai akhir kebakaran di lahan gambut. Kebakaran gambut sulit dipadamkan karena yang terbakar dapat mencakup tanah kaya bahan organik di bawah permukaan, bukan hanya rumput atau semak yang terlihat. Inilah alasan petugas masih bekerja ketika kobaran sudah mereda.
Yang membara bisa berada di bawah kaki
Penjelasan riset Imperial College London pada 30 Oktober 2020 membedakan pembakaran bernyala di vegetasi dan pembakaran membara pada gambut. Bara dapat terus merambat di bawah tanah lalu memicu nyala lagi. Permukaan yang tampak tenang tidak cukup untuk memastikan seluruh sumber panas telah hilang.
Riset tersebut menggunakan simulasi yang dibandingkan dengan eksperimen untuk mempelajari hubungan kelembapan gambut dan penyebaran api. Gambut lebih kering dapat menopang pembaraan yang lebih cepat dan luas. Temuan mekanisme ini membantu menjelaskan risiko, tetapi bukan pengukuran kedalaman bara atau perkiraan waktu padam untuk satu lokasi di Indonesia hari ini.
Mengapa gambut kering lebih rentan
Air dan kondisi lahan menjadi bagian dari persoalan. Dalam penjelasan yang diterbitkan pada 25 September 2026, BMKG menyebut gambut terbuka dengan muka air menurun dapat mengering dan lebih rentan terbakar. Menjaga tutupan vegetasi serta ketersediaan air membantu mempertahankan kelembapannya.
Banyak air belum tentu mencapai semua bara
Namun, menambahkan air ke permukaan tidak otomatis membuat semua bagian yang membara terkena air. Riset laboratorium yang dijelaskan Imperial pada 12 Maret 2021 menunjukkan air dapat mengalir melalui beberapa saluran besar di dalam tanah, sementara bagian panas di sekitarnya tidak mendapat pembasahan yang sama.
Jadi, persoalannya bukan hanya berapa banyak air disemprotkan, melainkan apakah air mencapai bagian yang masih terbakar dan menurunkan panasnya. Penelitian itu menguji bahan pembasah untuk memperbaiki penetrasi air. Hasil laboratorium tidak boleh diubah menjadi resep campuran rumahan atau jaminan hasil pada semua jenis gambut.
Mengapa petugas masih menyisir lokasi
Di lapangan, Kementerian Kehutanan dalam rilis 15 Oktober 2026 menegaskan bahwa penanganan gambut perlu diteruskan melalui pembasahan, pendinginan, penyisiran, dan mopping up setelah api permukaan dikendalikan. Petugas mencari sumber panas serta sisa bara yang dapat menyebabkan penyalaan kembali, terutama saat kondisi mengering atau berangin.
Untuk membaca laporan operasi, pisahkan tiga pertanyaan: apakah nyala di permukaan sudah dikendalikan, apakah bagian yang masih panas telah dijangkau, dan apakah pemeriksaan lanjutan masih menemukan bara? Ini panduan membaca informasi, bukan tiga status resmi yang bisa ditetapkan sendiri oleh warga dari foto atau video.
Tiga pertanyaan saat membaca laporan pemadaman
- Permukaan
- Nyala terkendali? Baru menggambarkan api yang terlihat
- Di dalam gambut
- Bara dijangkau? Pencarian sumber panas tetap diperlukan
- Pemeriksaan lanjut
- Masih ada bara? Pembasahan dan penyisiran dapat berlanjut
Jumlah air yang dijatuhkan atau banyaknya penerbangan juga belum menjawab ketiga pertanyaan itu. Foto water bombing pada artikel ini adalah arsip Sebangau, 22 September 2019. Foto menunjukkan salah satu bentuk dukungan pemadaman, bukan bukti suatu lokasi sudah padam pada Oktober 2026.
Apa yang dapat dilakukan warga
Ketika melihat kepulan asap kembali, warga dapat melaporkan lokasi, waktu, serta patokan yang dikenali kepada petugas setempat dari tempat aman. Kemenhut meminta indikasi asap atau api segera dilaporkan. Pemeriksaan bara dan pekerjaan pemadaman perlu mengikuti arahan petugas; hilangnya nyala bukan alasan untuk mendekati lahan terbakar.
Pembasahan saat pemadaman dan pengelolaan air untuk pencegahan mempunyai sasaran berbeda. Yang pertama membantu menangani bagian yang sedang terbakar; yang kedua menjaga gambut tidak mudah kehilangan kelembapan. Karena itu, selesainya operasi darurat tetap perlu diikuti pemeliharaan kondisi lahan.
Jejak sumber
Artikel ini merupakan kompilasi sumber terbuka, bukan liputan lapangan atau wawancara langsung redaksi. Tautan berikut mengikuti rujukan yang tersimpan bersama artikel.
- Kemenhut, 15 Oktober 2026 — pembasahan, penyisiran bara, dan mopping up
- BMKG, 25 September 2026 — pengelolaan air dan kelembapan gambut
- Imperial College London, 30 Oktober 2020 — riset pembakaran membara dan kelembapan
- Imperial College London, 12 Maret 2021 — riset laboratorium penetrasi air
- Wikimedia Commons — foto arsip Water Bombing
- Baca juga: kendala helikopter siaga dan operasi darat dalam laporan 12 Oktober
Panel ini tidak menyatakan bahwa sumber telah diperiksa ulang hari ini. Baca pedoman editorial dan koreksi.
Kemenhut, 15 Oktober 2026 — pembasahan, penyisiran bara, dan mopping up · BMKG, 25 September 2026 — pengelolaan air dan kelembapan gambut · Imperial College London, 30 Oktober 2020 — riset pembakaran membara dan kelembapan · Imperial College London, 12 Maret 2021 — riset laboratorium penetrasi air · Wikimedia Commons — foto arsip Water Bombing · Baca juga: kendala helikopter siaga dan operasi darat dalam laporan 12 Oktober


